IJMAK

MUQADDIMAH

Dalam metodologi usul feqh Ahl As-Sunnah Wal-Jamaah , terdapat empat sumber hukum yang utama bagi pembentukan hukum-hakam, selain beberapa sumber sekunder yang tidak disepakati oleh para mujtahidin.Sumber-sumber utama tersebut ialah Al-Quran, As-Sunnah, Qias dan Ijma’ ulamak, manakala sumber-sumber lain yang tidak disepakati oleh para mujtahidin seperti istihsan, istishab, masalih al-mursalah, uruf dan sebagainya.
Kertas kerja ini hanya akan membincangkan tentang salah satu daripada empat sumber utama iaitu Ijma’.

DEFINISI

Ijma’ menurut bahasa Arab bererti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal, seperti perkataan seseorang ( ) yang berarti “kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu.”
Manakala ijma’ menurut istilah ulama usul ialah “Ittifaq (persetujuan) seluruh mujtahidin (tokoh-tokoh ijtihad) dari umat Muhammad s.a.w., selepas wafatnya baginda s.a.w., pada sesuatu zaman, terhadap sesuatu hukum syar`i”. Inilah ta’rif jumhur usuliyyin (para ulama usul fiqh) terhadap maksud ijma’ dari segi istilahnya.
Diteliti kepada definisi tersebut, kita akan faham bahawa ijma’ tidak akan berlaku melainkan setelah bersetujunya seluruh para mujtahidin (tokoh-tokoh ijtihad) pada sesuatu zaman, tanpa kecuali seorang pun di kalangan mereka. Dalam kitab Mirah al-Usul disebut “mestilah mendapat persetujuan seluruh para mujtahidin”. Ertinya jika seorang sahaja yang membangkang maka tidak dianggap ijma’. Bayangkan, para mujtahidin biasanya berkhilaf dalam sesuatu hukum syar`i tetapi dalam hukum berkenaan tidak seorang pun di kalangan mereka yang berkhilaf mengenainya

DALIL KEHUJJAHAN IJMA’

Dalil-dalil kehujjahan ijmak dapatlah kita kutip daripada Al-Quran, Al-Hadis dan juga dalil aqli.

a. Al-Quran

Allah SWT berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu.” (an-Nis? 59)

Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal, keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin atau penguasa, sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para ulamak mujtahidin.
Dari ayat di atas difahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa, maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.

Firman AIlah SWT:
Artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu, jangan sekali-kali bercerai-berai. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma’ (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai, yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid.

Firman Allah SWT:

Artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nis? 115)

Pada ayat di atas terdapat perkataan sab?l mu’min? yang berarti jalan orang-orang yang beriman. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diertikan dengan ijma’, sehingga maksud ayat ialah: “barangsiapa yang tidak mengikuti ijma’ para mujtahidin, mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka.”

b. AI-Hadis

Bila para mujtahid telah melakukan ijma’ tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma’ itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

c. Dalil aqli.

Setiap ijma’ yang dilakukan atas hukum syara’, hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Kerana itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nas, maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin difahami dari nash itu. Sebaliknya jika dalam berijtihad, ia tidak menemukan satu nas pun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaedah-kaedah umum agama Islam, karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nas, seperti qiyas, istihsan dan sebagainya. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur’an dan al-Hadits, karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya boleh diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.

RUKUN-RUKUN IJMA’

Dari definisi dan dasar hukum ijma’ di atas, maka ulama usul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma’ sebagai berikut:

1. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu) Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma’, karena ijma’ itu harus dilakukan oleh beberapa orang.
2. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja, maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma’.
3. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara’) dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan, atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan, sehingga ia harus menerima suatu keputusan.
4. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pernyataan lisan, dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid.
5. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada, maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma’. Ijma’ yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari’ah.

JENIS-JENIS IJMA’
Ditinjau dari segi cara terjadinya, maka ijma’ terdiri atas:
1. ljma’ bayani, yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas, baik berupa ucapan atau tulisan. Ijma’ bayani disebut juga ijma’ shahih, ijma’ qauli atau ijma’ haqiqi;
2. Ijma’ sukuti, yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas, tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. Ijma’ seperti ini disebut juga ijma’ ‘itibari.

Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma’, dapat dibagi kepada:

1. ljma’ qath’i, yaitu hukum yang dihasilkan ijma’ itu adalah qath’i diyakini benar terjadinya, tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma’ yang dilakukan pada waktu yang lain.
2. ljma’ zanni, yaitu hukum yang dihasilkan ijma’ itu dhanni, masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma’ yang dilakukan pada waktu yang lain.

Dalam beberapa kitab usul fiqh terdapat juga beberapa jenis ijma’ yang dihubungkan dengan masa terjadi, tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma’-ijma’ itu ialah:
1. Ijma’ sahabat, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW;
2. Ijma’ khulafaurrasyidin, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan
pada masa keempat orang itu hidup, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar.
Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma’ tersebut tidak dapat dilakukan lagi
3. Ijma’ shaikhan, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab;
4. Ijma’ ahli Madinah, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Ijma’ ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki, tetapi Madzhab Syafi’i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam;
5. Ijma’ ulama Kufah, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Madzhab Hanafi menjadikan ijma’ ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam.

PERKARA BERLAKUNYA IJMA’
Ijma’ ini berlaku atas ijtihad-ijtihad yang sepakat atas semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya secara jelas dalarn al-Qur’an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu’amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada hukumnya dengan jelas dalam al-Qur’an dan al-Hadits

HUKUM MENGINGKARI IJMA’
Kata al-Amidi dalam al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, “Jika hukum ijma’ itu termasuk dalam mafhum nama Islam seperti `ibadat yang lima, kewajiban iktikad dalam tauhid dan kerasulan maka yang mengingkarinya menjadi kafir”.
Kata Ibn Hajib dalam Mukhtasar Ibn Hajib “..ada tiga pendapat mengenai hukum mengingkari ijma’ yang qat`i, yang paling terpilih ialah jika ijmak itu masyhur kepada orang awam seperti ibadat yang lima dan seumpamanya yang terdiri dari perkara-perkara yang wajib diketahui dalam agama maka sesiapa mengingkarinya kafir. Selain dari itu maka tidak kafir”.

GOLONGAN YANG MENOLAK IJMA’
Golongan Syiah tidak menerima pakai ijmak ulama, malah mereka berpegang kepada pendapat-pendapat Imam mereka, kerana ijmak pada mereka ada kesalahan disebabkan ia adalah pendapat manusia, sedangkan pendapat Imam adalah maksum. Perkara ini dinyatakan di dalam kitab Mukhtasar al-Tuhfah al-lthna Asyariyyah oleh Shah Abdul Aziz al-lmam Waliyullah Ahmad Abdul Rahim al-Dahlawi. Menurutnya, golongan Syiah mengatakan; Adapun ijmak ia juga adalah batil, kerana ia merupakan hujah yang tidak ada asalnya. Bahkan ini disebabkan kata-kata imam maksum terkandung di dalamnya. Perkara ini adalah berdasarkan kata-kata imam maksum dan bukannya ke atas ijmak itu sendiri. Kemaksuman imam dan perlantikan mereka adalah sabit samada dengan perkhabaran imam itu senditi atau perkhabaran imam maksum yang lain.
Bagaimana ijmak boleh berlaku lebih-lebih lagi dalam masalah khilafiah yang perlu kepada hujah yang pasti ?

PENUTUP

Tidak dapat dinafikan, bahawa sejarah perundangan Islam telah memperlihatkan bahawa ijma’ memang berlaku dan ia telah pun dicatat dalam kitab-kitab usul sebagai salah satu daripada sumber hukum yang disepakati oleh para ulamak Ahl As-Sunnah Wal-Jamaah.


About this entry